UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS SUMEDANG

Sabtu, 24 Desember 2011

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


BAB II
ISI
Budiman, Nandang.Memahami Perkembangan AnakUsia SD. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral  Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.

A.    Konsep Karier
Dalam konsep kehidupan ini, ada sebagian orang yang memiliki pekerjaan (job) saja dan sebagian lagi memiliki karier (career). Contoh klasik misalnya, Pulan X, yang setiap hari Jum’at menjajakan telur ayam ke warga sekampungnya, hari Sabtu sampai Kamis pukul 07.00-16.00 menjadi tukang tembok jika kebetulan ada yang membangun rumah, dan ia kembali memelihara sawah apa adanya jika bangunan rumah yang digarapnya sudah selesai, Dalam hal ini Pulan X merupakan orang yang memiliki pekerjaan. Meski ia bekerja, ia tidak memiliki suatu karier, hanya suatu pekerjaan yang menuntut sedikit keahlian, sedikit pendidikan, sedikit dedikasi, sedikit keberhasilan dan sedikit kepuasan. Contoh lainnya, Pulan Y, yang sejak kecil tertarik pada dunia mode, setamat SMU mengikuti kursus menjahit, lalu menekuni bidang jahit menjahit, sekarang bekerja sebagai penjahit khusus busana muslim yang berhasil. Ia merasa bahagia dan memperoleh penghasilan yang cukup dengan pekerjaan menjahitnya, dan memiliki keinginan kuat terus mendalami jahit menjahit busana muslim. Pulan Y merupakan contoh orang yang memiliki karier. Sedikitnya ada dua cirri karier yang melekat pada pekerjaan Pulan Y, yakni berhasil dan merasa puas dalam perjalanannya menjadi seorang penjahit.
Uraian diatas menunjukan bahwa tidak semua job adalah karier. Tetapi yang jelas karier dapat merupakan suatu job. Dillard (1985:1) membedakan antara pekerjaan (job) dengan karier (career). Menurutnya job mengacu kepada pekerjaan yang tidak berlanjut dan mungkin bersifat sementara. Oleh sebab itu suatu pekerjaan sebagai job umumnya hanya menuntut sedikit keahlian, sedikit pendidikan, dan sedikit dedikasi. Sedangkan pekerjaan sebagai karier mengimplikasikan adanya pendidikan atau latihan, komitmen dan merupakan jalan kehidupan kerja yang dipilih individu. Selain itu karier mengimplikasikan keberhasilan pada apa yang individu pilih serta mengimplikasikan kebermaknaan personal dan financial. Dillar (1985:1) menegaskan a carrer implies success in what you have chosen to do and an accompanying sence of personal and financial well-being.
Pandangan diatas dipertegas oleh Surya (1987) yang menyatakan bahwa karier dapat diperoleh melalui pekerjaan (job) seprti tukang jahit, hobi seperti pebulutangkis, profesi seperti psikolog atau guru, dan dapat diperoleh melalui peran hidup seperti pemimpin masyarakat. Menurutnya, bekerja sebagai apapun jika ditandai oleh adanya keberhasilan serta kebermaknaan personal dan finansial, maka dapat disebut sebagai karier.
Karier dapat terjadi pada sepanjang pengalaman kerja dan kehidupan seseorang. Pengalaman kerja yang dimaksud mulai sejak sebelum bekerja (preoccupational), selama bekerja (occupational), dan akhir atau seusai bekerja (post-occupational). Heally (1982:5) menjelaskan career as the sequence of major position occupied by a person throughout his or her pre-occupational, occupational, and post occupational life.
Heally (1982:5) menyatakan bahwa posisi pre-occupational merupakan posisi yang sangat penting dalam perjalanan karier seseorang. Sebab posisi ini dapat menjadi awal menuju kesuksesan karier. Artinya jika pada posisi ini individu mengalami kegamangan karier maka ia cenderung mengalami masalah dalam menjalani kariernya. Posisi pre-occupational yang dimaksud mulai dari orientasi karier, pengambilan keputusan karier yang diwujudkan dengan adanya pilihan pekerjaan tertentu, dan memulai berkarier dalam bidang pekerjaan tertentu.
Dalam pandangan super (Munandir, 1996) karier merupakan proses kehidupan sepanjang hayat. Disain karier mulai tampak sejak tahap pertumbuhan karier (growth stages), yang ditandai dengan adanya sikap keingintahuan anak terhadap jenis karier tertentu sampai tahap penurunan (disengagement). Dengan adanya dorongan keingintahuan anak mulai mengekplorasi karier yang menarik baginya. Pada akhir masa pertumbuhan karier, keingintahuan dan eksplorasi yang anak lakukan ditunjang dengan berkembangnya kapasitas-kapasitas dasar individu. Menurut Munandir (1996) ini semua merupakan modal dasar untuk mengawali karier kehidupan. Keberhasilan individu melalui tahap partumbuhan akan menjadi modal dasar bagi suksesnya tahap eksplorasi. Jika anak usia SD berada pada tahap ini, maka salah satu tugas orang tua atau guru adalah memfasilitasi tahap pertumbuhan karier mereka. Begitu juga selanjutnya, keberhasilan tahap eksplorasi akan menjadi dasar keberhasilan menjalani tahap penentuan, keberhasilan tahap penentuan akan menjadi dasar keberhasilan menjalani tahap pemeliharaan, dan keberhasilan tahap pemeliharaan akan menjadi dasar keberhasilan menjalani tahap penurunan. Menurut Super (Munandir, 1996) jika tahap demi tahap ini didisain secara tepat maka seseorang cenderung memperoleh kesuksesan dan kebermaknaan karier sepanjang hidupnya.
Berdasarkan uraian-uraian dimuka sesuatu disebut karier jika mengimplikasikan adanya (1) pendidikan yang diwujudkan dengan keahlian tertentu, (2) keberhasilan, (3) dedikasi atau komitmen, serta (4) kebermaknaan. Karier terentang sejak sebelum bekerja, pada saat bekerja, dan masa-masa mengakhiri pekerjaan. Karier dapat dipersiapkan sepanjang hayat individu.

B.  Perkembangan Karier Anak Usia SD
Surajat, Akhmad.wordpress.com/2008/02/07
1.    Perkembangan karier anak usia SD menerut Ginzberg
Teori perkembangan karier Ginzberg pertama kali dikembangkan pada tahun 1951. Teori awal yang dikembangkannya mengandung tiga unsur, yaitu (a) proses yang menyatakan bahwa pilihan karier merupakan suatu proses yang terjadi sampai m,asa remaja akhir; (b) irreversibilitas yang menyatakan bahwa pilihan karier tidak bisa diubah atau dibalik; dan (c) kompromi ialah bahwa pilihan karier merupakan kompromi antara faktor-faktor minat, kemampuan, dan nilai. Pada tahun 1970, teori ini kemudian direvisi, yang hasilnya sebagai berikut. Pertama, proses yang semula berakhir pada masa remaja akhir setelah direvisi dinyatakan bahwa proses pilihan karier berlangsung terus sepanjang kehidupan. Kedua, adanya pembatasan pilihan karier pada irreversibilitas tidak mesti berarti bahwa pilihan itu bersifat menentukan. Jika kesempatan ada bisa saja orang berubah pilihan kariernya, ini terutama terjadi sebelum dua puluh tahunan. Ketiga, kompromi bukan hanya sekali saja tetapi bisa jadi terjadi seumur hidup dalam rangka optimasi karier. Rumusan terakhir tentang pilihan karier dikemukakan Ginzberg tahun 1980 (Munandir, 1996:92) yang berbunyi:
Pilihan pekerjaan merupakan proses pengambilan keputusan yang berlangsung sepanjang hayat bagi mereka yang mencari banyak kepuasan dari pekerjaannya. Ini mengharuskan mereka berulang-ulang melakukan penilaian kembali, dengan maksud mereka dapat lebih mencocokan tujuan-tujuan karier yang terus berubah-ubah dengan kenyataan dunia kerja.
Menurut Ginzberg (Yost & Corbishley, 1987:6) proses pemilihan karier mencakup tiga tahapan perkembangan, yaitu tahap fantasi, tentatif, dan realistik. Tahap fantasi terjadi sejak awal kehidupan sampai sekitar usia sebelas tahunan. Tahap ini ditandai oleh minat karier yang tidak realistis. Pilihan karier lebih didasarkan hanya kepada kesan atau khayalan belaka. Misalnya, anak umur lima tahun ingin menjadi dokter karena umumnya dokter bermobil dan berpenghasilan banyak dari praktek swastanya. Anak seolah percaya bahwa dia bisa jadi apa saja dan ini berdasarkan kesan yang diperolehnya dari orang disekitarnya atau lingkungan kerja tertentu.
Tahap tentatif umumnya terjadi pada usia 11-18 tahunan. Pada tahap ini awalnya, pertimbangan karier hanya didasarkan kepada kesenangan, ketertarikan atau minat. Perkembangan berikutnya, individu menyadari bahwa minatnya berubah-ubah. Perubahan minat ini mendorong anak untuk mempertanyakan kepada dirinya sendiri apakah ia memiliki kemampuan melakukan suatu pekerjaan, dan apakah kemampuan itu cocok dengan minatnya. Seiring dengan perkembangan dan waktu anak mulai menyadari bahwa dalam karier yang dilakukan orang terhadap kandungan nilai seperti nilai pribadi atau nilai kemasyarakatan. Selanjutnya anak akan mengalami transisi, yaitu suatu masa peralihan sebelum orang memasuki tahap realistik. Pada masa ini individu akan memadukan orientasi-orientasi pilihan yang dimiliki sebelumnya proses orientasi ini mencakup pemaduan orientasi minat, kapasitas, dan orientasi nilai.
Tahap realistik, umunya terjadi pada usia 18 tahun keatas. Tahap realistik terdiri atas tiga sub tahapan, yaitu tahap eksplorasi, kristalisasi, dan spesifikasi karier ( Yost & Corbishley, 1987:6). Eksplorasi karier yang dimaksud ialah proses penilaian terhadap pengalaman-pengalaman kerja dalam kaitan dengan tuntutan sebenarnya, sebagai syarat untuk bisa memasuki lapangan pekerjaan. Kalau tidak bekerja maka penilaian dilakukan untuk melanjutkan keperguruan tinggi. Kristalisasi karier diawali oleh mengentalnya penilaian-penilaian yang dilakukuan individu selama masa eksplorasi sampai kepada individu mampu mengawinkan antara faktor-faktor yang ada baik internal maupun eksternal. Ujung tahap ini ialah individu mengambil keputusan karier. Jika ini sudah dilalui maka sampailah individu kepada tahap spesifikasi karier. Pada tahap ini individu sudah memilih karier tertentu yang akan digelutinya. Misalnya, jika individu memilih karier dalam bidang pendidikan maka ia mengkhususkan diri untuk menekuni bidang pekerjaan kependidikan seperti pustakawan atau guru bidang studi.
Berdasarkan teori perkembangan karier Ginzberg, anak usia SD berada pada tahap fantasi menuju tahap tentatif. Pilihan karier mereka merupakan khayalan yang terkadang tidak realistis. Lalu berangsur-angsur menuju tahap tentatif yang mana pilihan karier khayalannya disesuaikan dengan kesenangan, ketertarikan atau minat. Bahkan sebagian anak usia SD sudah mulai mempertimbangkan aspek kemampuan dalam menentukan pilihan karier masa depannya. Sementara itu, mereka masih terbelenggu oleh proses imitatifnya, yakni anak usia SD cenderung meniru apa yang ditampilka orang sekitarnya yang dipandang bermakna baginya.
Merunjuk pada perkembangan karier anak usia SD menurut Gizberg, dalam kerangka pengembangan karier mereka, sediknya ada tiga rekomendasi yang perlu diperhatikan. Pertama, anak usia SD perlu dikenalkan dengan berbagai jenis karier yang ada untuk memperkaya imajinasi mereka tentang dunia karier masa depan. Kedua, anak usia SD perlu dikenalkan dengan figur-figur orang yang berhasil dalam bidang tertentu agar mereka memiliki sejumlah imajinasi karier yang patut dijadikan teladan. Ketiga, anak usia SD perlu dibekali dengan kemampuan memahami keunggulan dan kelemahan diri sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan karier masa depan mereka sesaat memasuki tentatif. Dengan pemahaman yang akurat tentang keunggulan dan kelemahan diri, diharapkan mereka dapat menentukan pilihan karier masa depan yang disesuaikan dengan keunggulan diri dan minatnya.
2.    Perkembangan Karier Anak Usia SD menurut Super
Teori perkembangan karier menurut Super (dalam Sharf, 1992:123) disebut dengan istilah pelangi perkembangan karier sepanjang hayat. Ada dua konsep utama yang perlu dipahami dari pelangi perkembangan karier sepanjang hayat karya Super ini, yaitu peran kehidupan (roles) dan tahapan perkembangan karier (developmental stages). Super (Sharf, 1992:122) mendeskripsikan enam peran kehidupan yaitu peran individu sebagai (1) child, (2) student, (3) leisurite, (4) citizen, (5) worker, dan (6) homemaker. Menurut Super (Sharf, 1992: 122), pada masa anak sebagai child, student, dan leisurite merupakan peran yang sangat penting. Sedangkan pada masa remaja peran utama yang dianggap penting ialah sebagai citizen dan worker. Tetapi peran sebagai worker masih terbatas, karena peran ini menjadi peran utama masa dewasa.
Dalam mengembangkan teori tentang tahapan perkembangan karier, Super (Sharf, 1992:124) mengemukakan lima tahapan perkembangan, yaitu tahap (1) pertumbuhan (growth), (2) eksplorasi (exploration), (3) penentuan (establiahment), (4) pemeliharaan (maintenance), dan (5) tahap penurunan (disengagement). Kelima tahapan tersebut terbagi atas sub-sub tahapan.
Tahap pertumbuhan (growth) karier terjadi pada usia antara 0 sampai 14 tahunan. Tahap ini terdiri atas empat sub tahapan perkembangan, yaitu sub tahapan berkembangnya keingintahuan (curiosity), fantasi (fantasies), minat (interests), dan berkembangnya kemampuan (capacities) karier. Keingin tahuan anak pada usia 0-4 tahunan terhadap jenis-jenis karier merupakan awal perkembangan karier individu. Keingintahuan yang dimaksud ialah ketertarikan anak pada pengetahuan sesuatu, dan padahal yang baru atau tidak biasa. Misalnya, anak yang melihat dokter sedang memeriksa pasiennya, jika ia tertarik oleh oleh dunia kedokteran yang dilihatnya maka ia akan terdorong untuk mencari tahu tentang kedokteran. Biasanya, keingintahuan anak dipuaskan melalui eksplorasi, yaitu aktivitas anak dalam mencari dan menguji sesuatu. Jadi keingintahuan merupakan dorongan dasar (drive) atau kebutuhan (needs) sedangkan eksplorasi merupakan perilaku (action). Subtahapan fantasi terjadi pada usia 4-7 tahun ketika anak mulai mengembangkan fantasi kariernya. Misalnya, anak bermain dokter-dokteran seolah-olah ia sebagai dokter beneran. Subtahapan ketiga ditandai dengan munculnya minat anak terhadap karier tertentu, yang terjadi antara usia 7-11 tahun. Misalnya, anak yang berminat menjadi pesepakbola professional mulai menekuni dan menikmati aktivitas-aktivitas persepakbolaan. Tetapi pada tahap ini mereka belum mempertimbangkan faktor-faktor penghambat karier yang diminatinya itu. Subtahapan keempat ialah berkembangnya kemampuan (capacities) yang menjadi dasar terbentuknya kecakapan pada karier tertentu. Umumnya, subtahapan ini terjadi antara usia 11-14 tahun. Sedangkan usia 14-18 tahun merupakan masa transisi dari tahap pertumbuhan menuju tahap eksplorasi karier.
Tahap eksplorasi (eksploration) karier terjadi pada usia antara 18 sampai 25 tahunan. Tahap ini mencakup upaya-upaya individu dalam memperoleh suatu ide yang lebih baik tentang informasi pekerjaan, memilih alternatif-alternatif karier, mengambil keputusan karier, dan mulai bekerja (Super dalam Sharf, 1992: 180). Tahap ini terdiri atas tiga subtahapan, yaitu kristalisasi (crystallizing), spesifikasi (specifying), dan implementasi (implementing) karier. Kristalisasi karier yang umumnya terjadi pada usia 18-20 tahun merupakan proses klarifikasi individu terhadap karier yang ingin dijalaninya. Oleh sebab itu, individu mulai mempelajari pekerjaan-pekeraan yang mungkin sesuai dengan dirinya dan mempelajari keterampilan-keterampilan yang menjadi persyaratan kerja pada suatu pekerjaan. Untuk itu, pada proses kristalisasi ini individu senantiasa menguji minat, kemampuan, dan nilai-nilai yang dimilikinya. Spesifikasi karier terjadi pada usia 20 tahunan terutama pada mereka yang lulusan perguruan tinggi atau masih kuliah. Pada masa ini terlihat adanya upaya spesifikasi karier yang dilakukan individu. Misalnya, mahasiswa yang mengambil program keguruan magang menjdai guru disebbuah sekolah. Iplementasi karier yang umumnya terjadi mendekati usia 25 tahunan meruakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan individu untuk mulai berkarier pada bidang pekerjaan tertentu. Pada usia antara 25-30 tahun individu umumnya mengalami transisi kedua sebelum masuk pada tahap penentuan (establishment) karier.
            Tahap penentuan (establishment) karier terjadi pada usia antara 30 sampai 45 tahunan. Penentuan yang dimaksud ialah diperolehna ketentuan pada suatu bidang pekerjaan dengandimulainya bekerja dalam bidang pekerjaan tertentu. Perilaku karier yang nampak sebagai subtahapan dari tahap penentuan karier ini terdiri ats tiga subtahapan, yaitu stabilitas (stabilizing), konsolidasi (consolidating),dan pemantapan (advancing) karier. Stabilitas karier ialah proses dimulainya penyesuaian individu dengan tuntutan pekerjaan sejak mulai bekerja. Pada subtahapan ini individu dituntut agar mampu memenuhi persyaratan kerja minimal sehingga ia setabil dalam posisinya. Konsolidasi merupakan proses untuk lebih menguatkan dan mengamankan posisi tertentu serta berupaya untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi dalam pekerjaannya. Pemantapan karier merupakan pergerakan karier individu ke jenjang yang lebih tinggi dan  terhormat di lingkungan kerjanya.
            Tahap pemeliharaan (maintance) karier terjadi pada usia antara 45 sampai 65 tahun. Tahap ini terdiri atas tiga subtahapan, yaitu subtahapan memiliki (holding), memperbaiki (updating), dan subtahapan inovasi (innovating). Memiliki karier yang dimaksud ialah aktivitas individu dalam mempelajari sesuatu yang baru untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam suatu posisi. Perilaku yang tampak misalnya, melanjutkan studi yang sesuai dengan tuntutan kerja. Memperbaiki karier merupakan upaya memperbaharui pekerjaan sesuai dengan tuntutan lapangan. Misalnya, mengikuti seminar yang mengarah kepada profesi yang sedang digeluti atau mengunjungi pelanggan untuk melihat perkembangan baru di lapangan. Inovasi karier merupakan upaya maju dalam suatu profesi. Ini lebih mengarah kepada pengembangan kontribusi baru bagi lapangan.
            Tahap penurunan (disengagement) karier umumnya terjadi mulai usia 65 tahun ke atas. Tahap ini terdiri atas tiga sub tahapan, yaitu pelambatan (decelerating), perencanaan pengunduran diri (retirement planning), dan pengunduran diri (retirement living). Pelambatan merupakan penurunan tanggung jawab kerja seseorang atau proses penemuan cara kerja yang lebih mudah dengan waktu kerja yang lebih sedikit. Perencanaan pengunduran diri mengacu kepada terjadinya kembali upaya penyesuaian kerja dengan minat, kemampuan mental dan fisik, serta nilai-nilai.
            Menurut Super (Sharf, 1992;123), tahapan perkembangan karier tersebut tidak selamanya hierarkhi, sebab dalam perjalan karier seseorang ada kemungkinan terjadi proses recyle. Misalnya, jika individu usia tengah baya ingin berganti karier maka ia akan melakukan eksplorasi lagi terhadap karier barunya. Dengan demikian proses eksplorasi dapat terjadi pada setiap tahapan perkebangan karier. Perbedaan tahapan eksplorasi pada kisaran usia 18-25 tahun atau disebut tahapan eksplorasi dengan eksplorasi pada proses recyle ialah bahwa tahap eksplorasi merupakan aksi dan refleksi individu untuk menambah pengetahua diri tentang nilai kerja, minat pekrjaan, kemampuan kerja, dan berbagai hal tentang pekerjaan dan ragam dunia kerja. Secara tegas, Super ( savickas, 2010 ;52) menjelaskan bahwa tahap eksplorasi karier  merupakan “action and reflection that increase self-knowledge about work values,vocation interest, and occupational abilities as well as produces a broad fund of occopational information and knowladge about work”.
            Sedangkan eksplorasi pada proses recycle cenderung pada karier tertentu saja yang ditipu individu. Model eksplorasi seperti ini terutama terjadi jika individu berganti karier.
Berdasarkan teori Super, perkembangan karier anak uia SD berada pada tahap pertumbuhan (growth). Tahap pertumbuhan karier yang paling dominan pada anak usia SD adalah berkembangnya fantasi, minat, dan  kemampuan karier. Fantasi karier merupakan imajinasi dan penghayatan anak terhadap suatu karier. Melalui imajinasinya anak seolah-olah mampu melakukan suatu karier dan melalui penghayatan anak mulai memerankan suatu karier sesuai dengan imajinasi mereka. Ini terjadi terutama pada usia 4 sampai 7 tahun, yang jika dilihat dari usia SD mereka berada pada kelas-kelas awal. Sayangnya, imajinasi anak usia inni masih terbatas oleh proses berpikir transduktif sehingga terkadang apa yang mereka bayangkan tidak sesuai dengan yang sesungguhnya. Ini berarti guru atau orang tua punya kewajiban moral untuk turut mengembangkan fantasi karier mereka sesuai dengan karier yang sesungguhnya, tentu dalam cara yang sederhana.
Sementara itu, pada anak usia SD mulai berkembang minat-minat karier, yakni munculnya ketertarikan anak pada bidang karier tertentu. Apa yang mereka liat,rasakan, dan mereka amati dari lingkungan diluar dirinya direkam dan membentuk imajinasi karier tersebut. Apabila mereka menghayati maka lambat laun penghayatan akan imajinasi karier itu menumbuhkan minat pada karier tertentu. Hanya saja pertumbuhan minat karier itu teerkadang lebih ditentukan oleh pengaruh luar dari individu. Penjelasan ini memberi isyaratbahwa dalam kerangka pengembangan karier anak usia SD, guru atau orang tua berperan sebagai fasilitator tumbuhnya minat karier dari dalam diri anak dan untuk anak.
Pada anak usia SD sudah mulai tumbuh kapasitas karier, yakni serangkaian kemampuan dan keterampilan yang mendasari karier masa depan mereka. Peran guru atau orang tua adalah memfasilitasi kokohnya dasar kemampuan dan keterampilan karier tersebut.
C. Model Stimulasi Perkembangan Karier pada Anak Usia SD
            Dalam rangka memfasilitasi perkembangan karier masa depan anak usia SD, ada lima strategi yang dapat dilakukan guru atau orang tua, yakni pengembangan fantasi, minat, dan kapasitas karier, penyesuaian ciri dan faktor, serta model orientasin karier.
1.        Pengembangan Fantasi Karier Anak Usia SD
Fantasi karier adalah imajinasi dan penghayatan anak terhadap suatu karier. Melalui imajinasi, anak mampu membuat gambaran suatu karier dalam alam pikirannya seperti yang dilihat,didengar,dan dirasakannya melalui eksplorasi pada masa coriosity. Ini berarti imajinasi karier yang tepattergantung pada sejauh mana eksplorasi karier yang dilakukan anak pada masa curiosity.
Curiosity yang dimaksud adalah keingintahuan anak terhadap sesuatu. Ini merupakan suatu kebutuhan yang ada pada anak terutama terjadi pada usia1-4 tahun. Career curiosity berarti kebutuhan anak untuk mengetahuiberbagai hal tentang karier. Sebagaimana dipahami bahwa kebutuhan (needs) erupakan sesuatu yang mesti terpenuhi atau tersalurkan dengan ttepat. Demikian juga kebutuhan untuk mengetahui berbagai hal tentang karier pada anak mestinya terpenuhi dengan tepat. Artinya, anak perlu informasi karier yang tepat agar ketika masuk masa fantasi anak mampu membuat gambaran karier teppat dalam imajinasinya.
Jika  imajinasi karier sudah terbentuk, maka umumnya anak akan melakukan penghayatan karier sesuai dengan imajinasi kariernya. Penghayatan karier yang dimaksud adalah kemampuan anak melakukan peran-peran karier tertentu sebagaimana yang diimajinasikannya. Jika dirunut ke belakang, fantasi karier anak sangat ditentukan oleh informasi karier yang diterima sebelumnya. Ini berarti dalam kerangka pengembangan fantasi karier yang tepat pada anak, guru semestinya memfasilitasi mereka untuk memperoleh informasi karier yang tepat. Untuk itu sedikitnya ada empat teknik yang dapat dilakukan guru atau  orang tua, yaknni layanan informasi karier, intregrasi pembelajaran karier, observasi karier, dan career days.
a.        Layanan Informasi Karier
Layanan informasi karier adalah pemberian informasi karier yang tepat melalui berbagai media yang ada. Media yang dapat digunakan di antaranya buku bacaan, film, pamplet, dan majalah dinding yang berisi informasi berbagai karier yang disesuaikan dengan karakteristik anak usia SD. Misalnya, buku bacaan tentang informasi karier disertai dengan gambar-gambar yang menarik dan sesuai bagi anak usia SD.
b.             Pembelajaran Karier Terintegrasi
Pembelajaran karier terintegrasi yang dimaksud ialah pembelajaran karier yang diintegrasikan pada pembelajaran bidang studi tertentu. Pada pelajaran olah raga di kelas III SD misalnya, guru mengadakan olahraga sepak bola untuk anak laki-lakisetelah melakukan senam ringan untuk semua anak. Anak laki-laki dibagi menjadi dua kesebelasan. Untuk kedua kesebelasan dinetuk kepengurusannya. Pada masing-masing kesebelasan ada yang berperan sebagai manajer, pelatih, pemain, kapten kesebelasan, dan sebagai wasit serta hakim garis. Sementara itu anak peremuan sebagian besar diperankan sebagai penonton dan sebagaian kecil sebagai pengamat. Sebelum sepak bola dimulai dilakukan tanya jawab tentang tugas-tugas semua peran yang dilakukan mereka. Setelah semua tugas dipahami siswa, barulah sepak bola dimulai yang dipimpin langsung oleh wasit dan siswa. Setelah pertandingan selesai siswa dalam bimbingan guru melakukan refleksi. Dalam refeksi ini didiskusikan segala sesuatu yang terjadi dilapangan. Bahkan perlu dijelaskan apa yang mesti dipersiapkan dan dilakukan anak jika nati mereka memilih karier sebagai manajer, pelatih, pengamat, wasit, hakim garis dan pemain sepak bola proesional.
Pelajaran olahraga sepak bola seperti diatas merupakan salah satu contoh  pembelajaran yang mengintegrasi pengembangan fantasi karier anak di dalamnya. Penjelasan jenis-jenis karier dalam bidang aspek sepak bola pada pra pembelajaran melalui refleksi berfungsi untuk memperkokoh imajinasi anak tentang karier-karier yang tepat pada dunia sepak bola. Pengalaman melakukan peran-peran karier berfungsi untuk memperkuat penghayatan anak terhadap karier-karier yang mereka perankan dan penegasan apa yang harus mereka lakukan jika memiliki karier dalam bidang sepak bola berfungsi untuk mempersiapkan anak melakukan orientasi karier.
Pembelajaran pengembangan fantasi karier seperti ini dapat dilakukan pada semua bidang studi. Misalnya, untuk mengembangkan fantasi karier anak sebagai mubaligh dapat diintegrasikan pada pelajaran agama, sebagai politisi diintegrasikan pada pelajaran agama, sebagai politisi diintegrasikan pada bidang studi PPKn, dan jenis karier lainnya pada bidang-bidanng studi relevan.


c.              Observasi Karier
Observasi karier adalah proses pengamatan,pencatatan, dan penafsiran data tentang jenis karier tertentu. Ada dua teknik observasi karier,yakni langsungdan tidak langsung. Observasi tidak langsung adalah observasi terhadap objek tertentu yang sudah dalam bentuk hasil rekayasa. Salah satu contoh, anak diajak untuk mengamati,mencatat data-data penting dan menafsirkannya dari fim tentang karir yang ditayangkan. Observasi langsung adalah observasi yang dilakukan secara langsung di tempat dilakukannya perakter karir tersebut. Misalnya, untuk mengembangkan fantasi anak tentanh karier sebagai pengebang tahu, anak diajak ke abrik tahu yang dianggap berhasil untuk melihat langsung bagaimana caramembuat tahu dan mewawancarai pengembangnya. Anak difasilitasi untuk mengamati,mencatat data penting serta menafsirkan data-data tersebut.
            Pelaksanaan observasi diawali dengan penjelasan-penjelasan tentang objek dan bidang karier yang akan diobservasi. Pada saat observasi anak didorong untuk mencatat dan menafsirkan data-data yang dipandang penting baik melalui pengamatan maupun wawancara. Pada akhir observasi, yakni setelah di sekolah, anak diajk untuk mendiskusikan hasil observasi. Dalam diskusi ini dilakukan penegasan-enegasan yang dipandang penting baik oleh anak maupun guru.
d.        Career days
            Career days banyak diterjemahkan sebagai karier, yakni model pemberian informasi  karier dengan cara mendatangkan berbagai narasumber dari berbagai bidan karierpada waktu yang bersamaan.  Narasumber tersebut dapat berbentuk orang profesional pada bidang karier tertentu, VCD atau kaset tentang karier, buku-buku,dan jenis-jenis sumber informasi karier lainnya. Meski disebut hari-hari karier,career days dapat dilaksanakan satu,dua, atau tiga hari bahkan sampai seminggu. Dalam pelaksanaannya setiap sumber informasi karier sebagai  pilot, posko-posko lainnya. Pada posko informasi karier sebagai pilot sebaiknya ada pilot pesawat yang berpengalaman, buku-buku pilot dan pesawat,cara meneliti karier sebagai pilot,persyaratan melamar menjadi pilot,gaji pilot, dan resiko-resiko menjadi pilot. Demikian juga pada posko-posko bidang karier lainnya hendaknya dilengkapi dan langsung orang profesional yang menjelaskannya.
2. Pengembangan minat karier anak usia SD
Minat (interest) karier adalah ketertarikan individu terhadap suatu karier. Anak yang tertarik oleh suatu karier ditandai oleh adanya :
a.    Perhatian
b.    Rasa penasaran untuk mengetahui lebih jauh
c.    Dorongan serta upaya untuk mencoba,
d.   Adanya dorongan serta upaya untuk mendalami karier tertentu.
Semakin banyak indikator dari keempat ciri tersebut muncul pada diri individu berarti kesebelasaan dibentuk kepengurusannya. Pada masing-masing kesebelasan ada yang berperan sebagai manajer, pelatih, pemain,kapten kesebelasan, dan sebagai wasit serta hakim garis. Sementara itu anak perempuan sebagaian besar minat karier individu pada karier tertentu semakin kuat. Sebalikriya, semakin sedikit indikator dan keempat ciri tersebut tampak pada individu berarti minat kaner individu pada karier tertentu semakin lemah.
Pada anak usia SD minat karier sudah mulai tumbuh terutama pada usia 7 tahun ke atas atau sekitar kelas II SD ke atas. Mereka sudah mulai menunjukkan perhatian yang kuat terhadap bidang karier tertentu. Misalnya, anak 7 tahun yang berminat menjadi pesepak bola sudah mulai senang menonton bola meskipun ada film anak-anak yang umumnya disukai anak seusianya. Mereka sudah menunjukkan rasa penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang suatu karier. Anak yang berminat menjadi pesepak bola banyak bertanya atau membaca informasi tentang sepak bola. Misalnya ia mencari tahu sebanyak mungkin informasi tentang pemain yang dipandang sukses dan berbagai sumber. Anak yang berminat menjadi pesepak bola memiliki dorongan dan berupaya menjadi pesepak bola profesional. Misalnya, anak memilih ekstrakurikuler sepak bola untuk menyaurkan minat karier sepak bola. Anak yang berminat menjadi pesepak bola memiliki dorongan dan berupaya mendalami dunia sepak bola. Misalnya, anak mengikuti sekolah sepak bola.
Uraian perkembangan minat karier di muka mengimplikasikan empat prinsip dalam stimulasi perkembangan karier anak usia SD. Pertama, bahwa pendidik seyogyanya berupaya mendorong munculnya perhatian anak pada karier tertentu. Kedua, pendidik seyogyanya berupaya mendorong anak mampu menjawab rasa penasarannya terhadap karier tertentu. Pada bagian mi, kewajiban moral pendidik adalah menyediakan informasi berbagai jenis karier sebanyak-banyaknya disertai penjelasan-penjelasannya. Untuk anak usia SD tentu perlu dikemas secara lebih sederhana dan menarik. Ketiga, pendidik seyogyanya memfasilitasi anak untuk mewujudkan dorongan dan upayanya dalam mencoba suatu karier tertentu. Misalnya, pendidik mengembangkan beragam ekstra kurikuler untuk dipilih anak sesuai dengan minat kariernya. Keempat, pendidik seyogyanya memfasilitasi anak mewujudkan dorongan serta upayanya untuk mendalami karier tertentu. Pada bagian mi, kewajiban moral pendidik adalah menyediakan informasi berbagai tempat kursus atau pelatihan tentang keterampilan senta kemampuan tertentu yang dipandang dapat membantu anak mendalami karier tertentu.
3.   Pengembangan kapasitas karier anak usia SD
Kapasitas karier adalah serangkaian kemampuan dan keterampilan yang mendasari karier masa depan anak. Terlingkup di dalam kapasitas kanier adalah (a) kemampuan berpikir, (b) penguasaan akademik, (c) kemampuan mengambil keputusan, dan (d) keterampilan-keterampilan sosial. Peran guru atau orang tua adalah memfasilitasi kokohnya dasar kemampuan dan keterampilan kaner tersebut.
4. Penyesuaian ciri dan faktor anak usia SD
Sedikitnya ada tiga teknik yang dapat diterapkan dalam memfasiltasi perkembangan karier pada anak usia SD. Perta,na, teknik observasi yaitu pengamatan baik langsung ke tempat lingkungan kerja maupun secara tidak langsung dengan mengamati film tentang pelaksanaan pekerjaan tertentu. Misalnya, anak melakukan observasi cara menanam jeruk ke kebun jeruk milik seorang petani atau anak diaj ak untuk menonton film tentang cara menanam jeruk. Kedua, teknik bermain yaitu mengenalkan suatu jenis karier melalui permainan. Misalnya, anak diajak bermain perang-perangan. Seorang berperan sebagai komandan dan sebagai sebagai prajurit. Sebelumnya dilakukan tanya awab tentang tugas komandan dan prajurit. Setelah permainan selesai dilakukan refleksi tentang apa yang telah mereka lakukan. Lakukan eksp]orasi terhadap perasaan, pikiran, ide-ide, dan harapan-harapan anak yang terkait dengan perang, tentara, komandan, dan prajurit. Ketiga, teknik pemberian informasi karier, yakni anak diberi informasi karier yang akurat dan sederhana melalui tuhsan atau gambar-gambar yang menarik tentang pengembangan karier.
5. Karier anak usia SD menurut teori ciri dan faktor
Teori ciri d an faktor (trait a nd/actor) d ikembangkan F rank P arson pada tahun 1909. Dalam pandangan Parson, istilah ciri (trait) mengacu kepada suatu karakteristik individu yang dapat diukur melalui tes. Istilah faktor (factor) mengacu kepada dua hal. Pertama. mengacu kepada suatu karakteristik yang dipersyaratkan untuk berhasil dalam penampilan kerja. Kedua, mengacu kepada suatu pendekatan statistik yang digunakan untuk membedakan karakteristik penting suatu kelompok orang. Dengan demikian istilah cin dan faktor (trait and factor) mengacu kepada asesmen terhadap karakteristik-karaktenistik individu dan pekerjaan (Sharf, 1992 17).
Parson (Sharf, 1992 18) percaya bahwa kecocokan antara ciri pribadi dan persyaratan kerja merupakan kunci keberhasilan karier seseorang. Menurutnya semakin cocok antara ciri pribadi individu dengan persyaratan kerja maka semakin besar peluang individu untuk produktif dan puas dalam kariernya. Jadi akar teorinya ialah “kecocokan orang dengan pekerjaan”.
Uraian di atas menunjukkan bahwa asesmen terhadap cmi merupakan langkah paling awal dan penting dalam tahapan pemilihan karier. Parson (Sharf, 1992 17) menegaskan bahwa dalam memilih suatu karier, individu idealnya memiliki (1) suatu pemahaman yang jelas mengenai din sendiri, sikap, kemampuan, minat, ambisi, sumber keterbatasan dan penyebab-penyebabnya; (2) suatu pengetahuan tentang persyaratan dan kondisi keberhasilan, keuntungan dan kerugian, konpensasi, peluang, dan prospek pada dunia kerja yang berbeda; dan (3) memiliki alasan yang benar tentang keterkaitan antara dua kelompok fakta.
Berdasarkan ketiga hal yang harus dimiliki individu dalam memilih karier tersebut, untuk pengembangan karier pada anak usia SD, Parson (Sharf, 1992:18-34) mengemukakan dua langkah pengambilan keputusan kaner. Pertama, perolehan pemahaman din (gaining self understanding) ialah pemahaman secara jelas tentang sikap, prestasi, kemampuan, minat, ambisi, sumber keterbatasan dan penyebab-penyebabnya, nilai-nilai, dan kepribadian. Sejak dini anak usia SD dibimbing untuk memahami kesemuanya itu. Misalnya, anak usia SD sudah mulai diajak mendiskusikan kelebihan dan kekurangan din sendiri dilihat dan prestasi belajarnya, diajak mendiskusikan minat-minatnya, dan mendiskusikan berbagai hal yang terkait dengan ciri-ciri dirinya. Kedua, memperoleh pengetahuan tentang dunia kerja (obtaining knowledge about the world of work) yang mencakup pengetahuan tentang informasi tipe lapangan kerja seperti kondisi dan upah kerja, sistem kiasifikasi kerja, serta ciri dan faktor yang dipersyaratkan suatu pekerjaan. Dalam memfasilitasi perkembangan karier anak usia SD orang tua atau guru hendaknya mengenalkan semua bidang karier yang ada, terutama yang dekat dengan lingkungan anak. Jika lingkungan anak daerah industri maka kenalkan anak dengan dunia industri, jika lingkungan anak daerah pertanian maka kenalkanlah mereka dengan pertanian, jika lingkungan anak daerah laut yang penghidupan sehari-harinya sebagai nelayan maka kenalkanlah anak dengan pekerjaan sebagai nelayan. Jika stimulasi perkembangan karier dilakukan seperti mi, maka yang perlu ditekankan adalah bagaimana agar anak berpikir dan terdorong agar jika mereka ingin menjadi petani, nelayan, atau pekerja industri tentu terdorong untuk lebih baik dan yang mereka lihat waktu dikenalkan dengan berbagai janis karier tersebut. Perlu diperhatikan pula bahwa sembari mereka dikenal dengan berbagai bidang karier di sekitar lingkungannya, mereka perlu juga dikenalkan dengan berbagai bidang karier lainnya sesuai dengan pengetahuan anak disertai dengan penjelasan tentang persyaratan dan konsekuensi kerjanya.
6. Orientasi karier bagi anak usia SD
Orientasi karier yang dimaksud ialah readiness of individuals to make good choices, yang berarti kesiapan individu untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat ( Super dalam Sharf, 1992 : 155). Keputusan yang dimaksud ialah keputusan-keputusan tentang karier. Model mi didasari oleh asumsi bahwa keputusan-keputusan tentang karier terjadi pada semua rentangan kehidupan. Pada masa usia SD sekalipun anak dihadapkan pada berbagai keputusan tentang karier. Misalnya, anak dituntut untuk mampu menentukan pilihan lanjutan Setelah lulus SD. Ia harus mengambil keputusan apakah melanjutkan ke SMP atau ke Tsanawiyah. Keputusan melanjutkan ke SMP atau ke Tsanawiyah merupakan salah satu pengambilan keputusan karier (Sharf, 1992).
Menurut Supar (Sharf, 1992 : 156) kesiapan individu untuk membuat keputusan karier yang tepat terakumulasi pada orientasi karier secara total. Orientasi karier ini terdiri atas tiga dimensi, yaitu : sikap terhadap karier (career develompmen attitudes), keterampilan pembuatan keputusan karier (skills of career development decision making), dan informasi dunia kerja (world-of-work information).

a.      Sikap terhadap karier (career develompmen attitudes)
Para ahli (Rokeah, 1972 : Djawad Dahlan, 1980; dan Bertens, 1995)seakat bahwa sikap (attitude) merupakan kecenderungan untuk bertindak atau arah kecenderingan untuk bertindak, berperilaku dan persetujuan terhadap sesuatu. Berdasarkan konsep sikap ini, yang dikamsud sikap terhadap karir berarti arah kecenderungan individu terhadap bidang karir tertentu. Arah kecend4erungan ini terlihat dari aktivitas-aktivitasnya. Menurut Super (Sharf, 1992 : 156) sikap individu terhadap karirnya dapat dianalisas dari dua aktivitas, yang selanjutnya disebut sub dimensi sikap terhadap karir (career develompmen attitudes), yaitu perencanaan karir (career planning) dan eksplorasi karir (career exploration).
Perencanaan karir mengacu kepada aktivitas individu dalam merencanakan karir. Aktivitas tersebut mencakup (1) mempelajari informasi tentang karir (2) membicarakan perencanaan karir dengan orang dewasa, (3) mengikuti kursus sesuai dengan karir yang diharapkan, (4) berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan karir yang diharapkan, dan () mengikuti pendidikan atau latihan yang mengarah kepada karir masa depan. Sharf (1992 : 156) menegaskan aktivitas-aktivitas yang tercakup dalam perencanaan karir sebagai berikut :
Some of the activities that are included are learning about career information, talking with adults about plans, taking courses that would help one decided on a career, participating in extracuriculer activities, and obtaining training or education for a job.
Perencanaan karier individu yang tampak dalam mempelajari informasi tentang karier antara lain berminat untuk mengetahui secara lebih jauh tentang karier masa depan, berupaya mencari dan membaca informasi karier masa depan. Mendiskusikan perencanaan karier dengan orang dewasa seperti dengan orang tua, orang-orang yang dituakan, guru, dan konselor juga merupakan aktivitas individu dalam perencanaan karier. Mengikuti kursus sesuai dengan karier yang diharapkan dapat diamati dan apakah individu mengikuti kursus dalam bidang tertentu di luar jam pelajaran sekolah sesuai dengan bidang keahlian yang disenanginya. Misalnya siswa mengikuti kursus bahasa inggris sebagai pondasi untuk meraih sukses masuk sekolah jenjang berikutnya. Siswa yang perencanaan karirnya efektif dan mengikuti ekstrakulikuler yang sesuai dengan bidang karir yang diharapkannya. Misalnya siswa yang bercita-cita menempuh karir dalam bidang olahraga sepak bola cenderung memilih ekstrakulikuler sepak bola. Namun sayangnya belum banyak sekolah yang memfasilitasi perencanaan karir siswamelalui ekstrakulikuler. Demikian pula dalam hal mengikuti pendidikan atau pelatihan diluar jam pelajaran sekolah, siswa yang perencanaan karirnya efektif cenderung memilih pendidikan atau latihan yang mengarah kepada karir masa depan yang diinginkannya. Aktivitas-aktivitas yang dipaparkan pada bagian ini semuanya terlingkup dalam perencanaan karir siswa sebagai subdimensi dai sikap terhadap karirnya.
   Super (sharf, 1992 : 157 )mengkonsepsikan eksplorasi karir sebagai aktivitas individu dalam memanfaatkan sumber informasi karir . ia membahaskannya dengan : …to use resources such as parents, other relatives , friends , teacher, counselors , books, and movies is investigated. Berdasarkan konsep ini, eksplorasi karir siswa yang terlihat dari aktivitasnya dalam hal memanfaatkan orang tua, guru, teman, konselor, kenalan, dan buku  sebagai sumber informasi karir. Misalnya siswa bertanya kepada guru, atau mambaca buku yang berkaitan dengan informasi karir yang diharapkannya.

b.       Keterampilan Pembuatan Keputusan Karir
   Keterampilaan membuat keputusan merupakan hal penting dalam kehidupan seseorang, karena :
1.             Hakikatnya hidup dari waktu ke waktu merupakan rangkaian dari hasil pengambilan keputusan karena dalam hidup selalu ada pilihan dan konflik.
2.             Jika individu keliru mengambil keputusan tertentu maka ia cenderung dihadapkan pada suatu masalah tertentu.
Oleh sebab itu paradigma terakhir keterampilan hidup individu,termasuk didalamnya keterampilan membuat keputusan karir.
   Menurut Sharf (1992 :157) keterampilan pembuatan keputusan karir mengacu kepada …the ability to use knowledge and thougth to make career plans. Mengacu kepada konsep ini keterampilan pembuatan keputusan karir terdiri atas  (a) penggunaan pengetahuan dan (b) penggunaan pemikiran dalam membuat keputusan karir.
   Menurut Sharf (1992) pengetahuan yang dapat mendasari pengambilan keputusan karier adalah pengetahuan tentang :
1.    Langkah-langkah embuat keputusan karir
2.    Kesesuaian suatu karier dengan kemampuan , bakat, dan minat
3.    Pengetahuan tentang pentingnya pengambilan keputusan karir secara mandiri
Kemampuan menggunakan pemikiran ialah memfungsikan pemikiran dalam membuat keputusan karir.
1.    Mampu membuat keputusan karir secara rasional
2.    Mampu memperkirakan konsekuensi dari keputusan karir yang diambil
3.    Mengantisipasi resiko yang akan dihadapi dari keputusan yang diambil
c.       Informasi Dunia Kerja
   Istilah informasi diambil dari bahasa Inggris to inform yang artinya memberi tahu. Munandir (1996 : 165 ) mendefinisikan informasi sebagai segala sesuatu yang membuat orang tahu tentang sesuatu itu. Informasi dunia kerja artinya segala hal yang berkaitan dengan dunia kerja yang membuat orang menjadi yahu tentang dunia kerja itu. Menurut Sharf (1992 : 158) informasi dinia kerja yang dimaksud mencakup dimilikinya (a) informasi tentang pekerjaan tertentu dan (b) informasi tentang orang lain dalam dunia kerjanya.
   Informasi tentang pekerjaan tertentu menurut Sharf (1992:158) dapat dilihat dari tiga indicator.
1.    Memiliki informasi tentang jenis-jenis pekerjaan yang sesuai dengan karir yang diharapkan. Misalnya. Siswa mengetahui beberapa jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan atau sesuai dngan karir yang mereka harapkan. Bahkan mereka mengetahui cara kerja bidang pekerjaan yang sesuai dengan karir yang diharapkannya.
2.    Memiliki informasi tentang cara memasuki dunia kerja yang sesuai dengan karir yang diharapkan. Misalnya,siswa memiliki informasi yang cukup tentang cara melamar pekerjaan di bidang karir yang diharapkannya.
3.    Memiliki informasi tentang kewajiban dan aturan pekerjaan.
  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan karier
Cita-cita tentang jenis pekerjaan di masa yang akan datang merupakan faktor penting dan merupakan langkah awal dalam kehidupan pendidikan dan kariernya. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pendidikan dan karier adalah:
1. Faktor sosial-ekonomi, kondisi sosial yang menggambarkan status orang tua dan kemampuan orang tua dalam membiayai pendidikan anaknya
2. Faktor lingkungan, terdiri atas 3 hal:
·         Lingkungan kehidupan masyarakat, hal ini akan membentuk sikap anak dalam menentukan pola kehidupan dan mempengaruhi pola pikirnya tentang pendidikan dan kariernya
·         Lingkungan kehidupan sekolah, kondisi sekolah merupakan lingkungan yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan pendidikan dan karier remaja
·         Lingkungan teman sebaya, pergaulan teman sebaya akan berpengaruh secara langsung terhadap kehidupan pendidikan masing-masing remaja
3. Faktor pandangan hidup, merupakan bagian yang terbentuk karena lingkungan.
BAB VI
Implikasi dalam Pembelajaran Di SD
Trimo.BK karir di SD/2008/02/13.Semarang
 Dalam bidang bimbingan karier, pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa mengenali dan mulai mengarahkan diri untuk masa depan karier. Bimbingan karier di Sekolah merupakan kegiatan yang paling awal dan mendasar bagi pengembangan karier secara menyeluruh. Pemberian materi bimbingan karier untuk para siswa disesuaikan dengan jenjang pendidikan yang diikutinya. Bagi siswa SD pada umumnya, bimbingan karier dimaksudkan untuk:
1. Mengembangkan sikap positif terhadap segala jenis pekerjaan. Dalam hal ini guru kelas   harus berhati-hati. Guru kelas menunjukkan atau menampilkan prasangka ataupun kecenderungan tertentu terhadap jenis-jenis pekerjaan (misalnya, pekerjaan tertentu disikapi positif, sedang lainnya disikapi negatif).
2.Membawa para siswa menyadari betapa luasnya dunia kerja yang ada, terentang dari pekerjaan yang dijabat orang tua sampai ke segala macam pekerjaan di masyarakat.
3.Menjawab berbagai pertanyaan para siswa tentang pekerjaan. Dorongan ingin tahu anak-anak akan membawa mereka menanyakan segala sesuatu tentang pekerjaan. Dalam hal ini jawaban atau informasi yang tepat dan benar harus segera diberikan setiap waktu bertanya.
4.Menekankan jasa dari masing-masing jenis pekerjaan, yaitu untuk kesejahteraan hidup rumah tangga dan masyarakat (tidak hanya mengemukakan besarnya gaji atau penghasilan yang diperoleh melalui pekerjaan itu). Perlunya bakat atau kemampuan/keterampilan khusus untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu, terutama pekerjaan yang bermanfaat bagi pemberian bantuan kepada sesama manusia, hendaklahdisampaikan.
       Di samping itu, informasi pekerjaan untuk siswa kelas tinggi SD perlu diperluas dan diperkuat. Hal ini bertujuan agar mereka memahami bahwa:

1. Pekerjaan ada di mana-mana, di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara, bahkan dunia. Pada tingkat perkembangan itu, siswa mulai membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang ada di desa dan di kota, di daerahnya sendiri dan di daerah lain. Siswa dirangsang untuk mulai menyadari bahwa ada banyak macam cara yang dilakukan oleh manusia untuk mencari penghidupan dan memenuhi kebutuhan melalui berbagai jenis pekerjaan.
2.Terdapat saling ketergantungan antara pekerjaan yang satu dengan yang lainnya. Pada diri siswa, perlu dikembangkan bahwa untuk terlaksananya suatu pekerjaan dengan baik, para pekerja saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Oleh karenanya para pekerja itu harus saling membantu dan bekerja sama.
3.Baik kemampuan khusus maupun ciri-ciri kepribadian tertentu diperlukan untuk mencapai keberhasilan bagi sebagian jenis pekerjaan.
4.Untuk memilih suatu pekerjaan diperlukan informasi yang tepat (yaitu tentang hakikat pekerjaan itu sendiri, latihan yang diperlukan, kondisi kerja, dsb).
5.Ada berbagai masalah yang mungkin dihadapi oleh orang-orang yang menginginkan pekerjaan tertentu (seperti peralatan mahal, biaya untuk program pendidikan dan pelatihan mahal dan waktunya lama, kondisi kerja kurang menyenangkan,dsb).
6.Untuk memilih pekerjaan atau karier di masa depan perlu kehati-hatian dan pertimbangan yang matang.

Tenaga Profesional dalam Kegiatan Bimbingan Karier di SD 
  1. ModalPersonal 
Modal dasar yang akan menjamin suksesnya penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan   konseling di sekolah adalah berbagai ciri personal yang ada dan dimiliki secara pribadi oleh tenaga penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Modal personal tersebut adalah: 
a.       Berwawasan luas: memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, terutama tentang perkembangan peserta didik pada usia sekolahnya, perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi/kesenian dan proses pembelajarannya, serta pengaruh lingkungandan modernisasi terhadap peserta didik. 
b.      Menyayangi anak: memiliki kasih sayang yang mendalam terhadap peserta didik; rasa kasih sayang ini ditampilkan oleh Guru Pembimbing/ Guru kelas benar-benar dari hati sanubarinya (tidak berpura-pura atau dibuat-buat) sehingga peserta didik secara langsung merasakan kasih sayang itu. 
c.       Sabar dan bijaksana: tidak mudah marah dan/atau mengambil tindakan keras dan emosional yang merugikan peserta didik serta tidak sesuai dengan kepentingan perkembangan mereka; segala tindakan yang diambil Guru Pembimbing/Guru Kelas didasarkan pada pertimbangan yang matang. 
d.      Lembut dan baik hati: tutur kata dan tindakan Guru Pembimbing/Guru Kelas selalu menggenakkan hati, hangat, dan suka menolong. 
e.       Tekun dan teliti: Guru Pembimbing/Guru Kelas setia mengikuti tingkah laku dan perkembangan peserta didik sehari-hari dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan berbagai aspek yang menyertai tingkah laku dan perkembangan tersebut. 
f.          Menjadi contoh: tingkah laku, pemikiran, pendapat dan ucapan-ucapan Guru Pembimbing/Guru Kelas tidak tercela dan mampu menarik peserta didik untuk menggikutinya dengan senang hati dan suka rela. 
g.      Tanggap dan mampu mengambil tindakan: Guru Pembimbing/Guru Kelas cepat memberikan perhatian terhadap apa yang terjadi dan/atau mungkin terjadi diri pada peserta didiknya, serta mengambil tindakan secara cepat untuk mengatasi dan/atau mengantisipasi apa yang terjadi dan/atau mungkin terjadi itu. 
h.      Memahami dan bersikap positif pelayanan bimbingan dan konseling: Guru Pembimbing/Guru Kelas memahami fungsi dan tujuan serta seluk-beluk pelayanan bimbingan dan konseling, serta dengan bersenang hati berusaha sekuat tenaga melaksanakannya secara profesional sesuai dengan kepentingan dan perkembangan peserta didik.
  1. Modal Profesional 
Modal Profesional mencakup kematangan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap dalam bidang kajian pelayanan bimbingan dan konseling. Semuanya itu dapat diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan khusus dalam program pendidikan bimbingan dan konseling. Dengan modal profesional itu, seorang tenaga pembimbing (Guru Pembimbing dan Guru Kelas) akan mampu secara nyata melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling menurut kaidah-kaidah keilmuannya, teknologinya, dan kode etik profesionalnya.
Apabila semua modal personal dan modal profesional tersebut dikembangkan dan dipadukan dalam diri Guru Kelas serta diaplikasikan dalam wujudnya yang nyata terhadap peserta didik, yaitu dalam bentuk berbagai layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling, dapat diyakini pelayanan bimbingan dan konseling akan berjalan dengan lancar dan sukses. Tangan dingin dan terampil tenaga pembimbing yang menggarap lahan subur di sekolah untuk pekerjaan bimbingan dan konseling diharapkan akan membuahkan para peserta didik yang berkembang secara oiptimal. 
  1. ModalInstrumental
    Pihak sekolah atau satuan pendidikan perlu menunjang perwujudan kegiatan Guru Pembimbing dan Guru Kelas itu dengan menyediakan berbagai prasarana dan sarana yang merupakan modal Instrumental bagi suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling, seperti ruangan yang memadai perlengkapan kerja sehari-hari, istrumen BK, dan sarana pendukung lainnya. Dengan kelengkapan instrumental seperti itu kegiatan bimbingan dan konseling akan diperlancar dan keberhasilannya akan lebih dimungkinkan.
    Di samping itu, suasana profesional pengembangan peserta didik secara menyeluruh perlu dikembangakan oleh seluruh personil sekolah. Suasana profesional ini, selain mempersyaratkan teraktualisasinya ketiga jenis modal tersebut, terlebih lebih lagi adalah terwujudnya saling pengertian, kerja sama dan saling membesarkan diantara seluruh personil sekolah. 
BAB IV
KESIMPULAN
Sesuatu disebut karir jika mengimplikasikan adanya (1) pendidikan yang diwujudkan dengan keahlian tertentu, (2) keberhasilan, (3) dedikasi atau komitmen, serta (4) kebermaknaan personal dan financial. Karir terentang sejak sebelum bekerja , pada saat bekerja ,dan masa-masa mengakhri pekerjaan. Karir dapat dipersiapkan sepanjang hayat individu.
Menurut Ginzberg, perkembangan anak usia SD berada pada tahap fantasi menuju tahap tentative, yang ditandai oleh minat karir yang tidak realistis . pilihan karir mereka lebih didasarkan kepada kesan atau khayalan belaka. Anak seolah percaya bahwa dia bias apa saja dan ini berdasarkan kesan yang diperolehnya dari orang disekitarnya atau lingkungan kerja tertentu. Sedangkan menurut Super  mereka masih berada pada tahap pertumbuhan menuju tahap eksplorasi, yang ditandai oleh berkembangnya keingintahuan , fantasi, minat, dan berkembangnya kemampuan karir.
Model penyesuaian cirri dan factor serta model orientasi karir merupakan dua model stimulasi perkembangan karir anak yang diterapkan di Sd. Model penyesuaian cirri dan factor percaya kecocokan antaraciri pribadi dan persyaratan kerja merupakan kunci keberhasilan seseorang. Artinya, semakin cocok antara ciri pribadi individu dengan persyaratan kerja maka semakin besar peluang individu untuk produktif dan puas dalam karirnya. Memfasilitasi perkembangan karier anak usia SD berarti memfasilitasi anak usia SD memahami cirri-ciri pribadi dan persyaratan tertentu , selanjutnya anak didorong untuk menentukanpilihan karir sesuai dengan cirri-ciri pribadinya. Model orientasi karir diarahkan kepada peningkatan (1) sikap terhadap karir, (2) keterampilan pembuatan keputusan karir, (3)informasi dunia kerja. Orientasi karir didefinisikan sebagai kesiapan individu untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat tentang karir masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Surajat, Akhmad.wordpress.com/2008/02/07
Trimo.BK karir di SD/2008/02/13.Semarang
Budiman, Nandang.Memahami Perkembangan AnakUsia SD. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral  Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar